MOJOKERTO, majalahdetektif.com – Rutinan Khotmil Qur’an yang digelar secara berkala di Makam Umum Dusun Banjarsari, Desa Kedunglengkong, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto, kembali berlangsung khidmat, Minggu (4/1/2026). Kegiatan keagamaan yang telah memasuki periode ke-20 ini menjadi bagian dari upaya masyarakat dalam menjaga tradisi, memperkuat nilai spiritual, serta mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan desa.
Penanggung jawab kegiatan, Hadi Purwanto, S.T., S.H., M.H., menyampaikan bahwa Khotmil Qur’an tersebut telah berjalan hampir dua tahun secara swadaya dan konsisten. Menurutnya, kegiatan ini terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk unsur pemerintah desa, sebagai bagian dari sinergi sosial dan keagamaan.

“Rutinan ini merupakan ikhtiar bersama warga dalam menjaga tradisi doa dan syiar agama. Kami berharap ke depan semakin banyak pihak yang bisa hadir dan berpartisipasi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hingga saat ini kehadiran unsur Pemerintah Desa Kedunglengkong dalam kegiatan tersebut masih sangat terbatas. Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi catatan evaluatif agar ke depan terbangun komunikasi dan keterlibatan yang lebih baik antara masyarakat dan pemerintah desa.
“Kami memahami kesibukan masing-masing. Harapannya, ke depan ada ruang sinergi yang lebih terbuka demi kebersamaan dan kemaslahatan warga,” kata Hadi.
Selain sebagai kegiatan keagamaan, Khotmil Qur’an juga dimaknai sebagai sarana edukasi nilai moral dan budaya kepada generasi muda. Hadi menekankan pentingnya menanamkan nilai bakti kepada orang tua dan leluhur, serta konsistensi dalam menjalankan ibadah sebagai bagian dari pembentukan karakter.
“Kegiatan ini menjadi media pembelajaran agar anak-anak mengenal nilai agama, budaya, dan adab sosial sejak dini,” tambahnya.
Penasihat kegiatan, Ustaz Muhid, mengapresiasi partisipasi jemaah yang secara sukarela terus menjaga keberlangsungan rutinan tersebut. Ia menyebut, konsistensi warga merupakan bukti bahwa kegiatan keagamaan masih menjadi kebutuhan rohani masyarakat.
“Tidak terasa, kegiatan ini hampir memasuki dua tahun. Semua yang hadir datang atas dorongan iman, bukan karena paksaan,” tuturnya.
Menurutnya, kebersamaan dalam ibadah adalah salah satu bentuk nikmat yang tidak ternilai. Ia juga menekankan bahwa dalam ukhuwah Islamiyah, ukuran utama bukanlah jabatan atau kedudukan, melainkan keimanan dan amal ibadah.
Sementara itu, Penasihat Jemaah, K.H. Hasan Mathori, dalam tausiyahnya mengingatkan pentingnya memahami esensi ajaran Islam yang berlandaskan tauhid. Ia menegaskan bahwa kemuliaan hidup terletak pada ketaatan kepada Allah SWT, bukan pada kekuasaan maupun materi.
“Ketaatan kepada Allah adalah pondasi utama. Dalam kehidupan bermasyarakat, sikap bijak dan berpegang pada nilai kebenaran harus selalu dijaga,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, masyarakat berharap Rutinan Khotmil Qur’an tidak hanya menjadi agenda spiritual, tetapi juga menjadi ruang kebersamaan yang mampu memperkuat hubungan sosial antara warga dan seluruh pemangku kepentingan di Desa Kedunglengkong. (Den)














