PKDI Mojokerto Juara PKDI Cup II 2026, Gol Arif Rahman Antar Trofi ke Bumi Majapahit POHON TUMBANG GANGGU LALU LINTAS DI PEREMPATAN JAYANEGARA–PAHLAWAN, POHON KEROPOS JADI SOROTAN Wawali Mojokerto Dorong Perusahaan Lindungi Pekerja, Bukan Sekadar Takut Sanksi Tekan Kriminalitas dari Lingkungan Terkecil, Ning Ita Perkuat Gerakan Kelurahan Sadar Hukum Ning Ita Minta Siskamling Tak Hanya Aktif Saat Lomba, Keamanan Lingkungan Tanggung Jawab Bersama 242 Sertifikat Tanah Wakaf Diserahkan di Mojokerto, Pemkab dan BPN Perkuat Perlindungan Aset Umat

Berita Pemkot Mojokerto

Dari Keteladanan Rasul hingga Merdeka dari Dengki, Pesan Pengajian Akbar Mojokerto

badge-check


					Dari Keteladanan Rasul hingga Merdeka dari Dengki, Pesan Pengajian Akbar Mojokerto Perbesar

MOJOKERTO | Majalahdetektif.com — Kemerdekaan tidak hanya dirayakan dengan mengenang bebasnya bangsa Indonesia dari penjajahan. Di Kota Mojokerto, momentum HUT ke-81 RI dipadukan dengan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk mengingatkan masyarakat bahwa kerukunan dan kebebasan dari penyakit hati juga menjadi bagian penting dalam mengisi kemerdekaan.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pengajian Akbar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Gedung GOR dan Seni Mojopahit, Rabu (26/8). Kegiatan tersebut menghadirkan Ustaz Zaki Mirza dan diikuti masyarakat Kota Mojokerto.

Wali Kota Mojokerto Ika Puspitasari mengatakan, kebersamaan warga dalam kegiatan tersebut menunjukkan kekompakan masyarakat. Menurutnya, kondisi itu menjadi modal penting bagi keberlangsungan pembangunan daerah.

“Alhamdulillah warga Kota Mojokerto kompak duduk rukun. Ini adalah sebuah modal bagi seluruh program dan pembangunan bisa berjalan dengan baik dan lancar ke depannya,” kata Ning Ita, sapaan akrab Wali Kota Mojokerto.

Momentum Maulid Nabi, lanjut Ning Ita, juga menjadi kesempatan untuk menghidupkan kembali keteladanan Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari.

Ia meyakini, semakin kuat masyarakat meneladani sifat-sifat Rasulullah, semakin besar pula peluang terciptanya kehidupan yang damai dan minim gesekan.

“Kalau umat muslimnya Kota Mojokerto senantiasa meneladani sifat-sifat Rasulullah, maka tidak akan ada lagi yang namanya gesekan, tidak akan ada lagi yang namanya gontok-gontokan. Pasti semuanya akan adem ayem, pasti semuanya akan damai,” tuturnya.

Kerukunan di tengah masyarakat yang plural

Pesan kerukunan tersebut dinilai penting karena Kota Mojokerto dihuni masyarakat dengan latar belakang agama, suku dan etnis yang beragam.

Ning Ita menyebut keberagaman tersebut dapat berjalan berdampingan karena adanya semangat guyub dan toleransi masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa Kota Mojokerto telah dinobatkan sebagai kota harmoni oleh Kementerian Agama.

“Berbagai suku etnis hidup berdampingan di sini. Itulah kenapa sejak empat tahun yang lalu Kota Mojokerto dinobatkan oleh Kementerian Agama sebagai kota harmoni, karena masyarakatnya semuanya guyub rukun dan penuh toleransi,” jelasnya.

Memasuki rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Ning Ita juga mengajak masyarakat mensyukuri kemerdekaan yang telah dinikmati bangsa Indonesia selama 81 tahun.

Namun, rasa syukur tersebut menurutnya perlu berjalan bersama kepedulian terhadap masyarakat di daerah lain yang sedang menghadapi musibah.

Ia mengajak seluruh jamaah mendoakan masyarakat terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur, Kalimantan dan Sulawesi agar diberikan kesabaran, ketabahan serta keselamatan.

Di saat yang sama, Ning Ita meminta doa agar Kota Mojokerto senantiasa mendapatkan rahmat dan perlindungan Allah SWT.

“Saya berharap doa panjenengan semua di peringatan Maulidun Rasul ini agar Kota Mojokerto juga senantiasa diberikan Allah rahmat sehingga menjadi kota yang damai, aman, dan sejahtera seluruh warganya,” imbuhnya.

Ning Ita juga mengajak masyarakat memperbanyak membaca selawat sebagai bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ia berharap tausiyah Ustaz Zaki Mirza dapat menambah ilmu sekaligus menjadi siraman rohani bagi masyarakat.

Merdeka dari penyakit hati

Dalam tausiyahnya, Ustaz Zaki Mirza mengajak masyarakat melihat kemerdekaan dari sudut pandang yang lebih luas.

Menurutnya, kemerdekaan tidak cukup dimaknai sebagai terbebas dari penjajahan maupun sekadar diucapkan melalui kata-kata. Kemerdekaan juga menyangkut kebebasan pikiran dari prasangka dan pikiran negatif terhadap orang lain.

“Merdeka itu bukan hanya menyemakkan merdeka lewat kata-kata, tidak. Merdeka itu adalah memerdekakan pikiran kita dari suuzon, buruk sangka, over thinking, sering mikir jelek sama orang lain,” ungkap Zaki Mirza.

Ia kemudian mengaitkan kemerdekaan dengan kondisi hati. Menurutnya, seseorang belum sepenuhnya merasakan kemerdekaan apabila masih terbelenggu dendam, iri, dengki maupun perasaan tidak senang terhadap kebahagiaan orang lain.

“Merdeka itu maknanya adalah memerdekakan hati kita dari penyakit hati, dendam, kesumat, iri, dengki, susah lihat orang lain senang, senang lihat orang lain susah,” tegasnya.

Pengajian akbar tersebut kemudian ditutup dengan doa bersama. Momentum itu menjadi ruang untuk memperkuat persaudaraan sekaligus mengingatkan masyarakat agar semangat kemerdekaan tidak berhenti pada perayaan, tetapi diwujudkan melalui akhlak, kerukunan dan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Wawali Mojokerto Dorong Perusahaan Lindungi Pekerja, Bukan Sekadar Takut Sanksi

11 September 2026 - 10:14 WIB

Tekan Kriminalitas dari Lingkungan Terkecil, Ning Ita Perkuat Gerakan Kelurahan Sadar Hukum

9 September 2026 - 08:50 WIB

Ning Ita Minta Siskamling Tak Hanya Aktif Saat Lomba, Keamanan Lingkungan Tanggung Jawab Bersama

8 September 2026 - 16:50 WIB

PBB 90 Persen hingga Lingkungan Bersih, Ini Lima Kriteria Kelurahan Sadar Hukum

8 September 2026 - 10:16 WIB

Dibekali Keterampilan Kuliner, 60 Warga Binaan Lapas Mojokerto Disiapkan Mandiri Usai Bebas

7 September 2026 - 17:20 WIB

Trending di Berita Pemkot Mojokerto